Rabu, 18 April 2012

Tomcat Meresahkan Masyarakat

Tomcat yang belakangan meresahkan masyarakat ternyata memiliki sisi positif di bidang pertanian. Ini karena serangga yang mempunyai nama latin Paederus fuscipes itu merupakan predator terhadap hama. Karena itulah, masyarakat tidak perlu panik. Penanganannyapun harus dilakukan secara bijaksana. Berikut ini pernyataan para pakar terkait.
KEPALA Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Dr Haryono mengatakan, fenomena munculnya Tomcat sudah ada sejak dulu. Bahkan, serangga tersebut biasa ada di sekitar rumah karena hidupnya banyak pada tumbuhan dan rumput-rumputan. ”Kumbang ini sudah ada sejak lama. Jadi bukan serangan baru dan tidak mematikan,” tandasnya beberapa waktu lalu.
Haryono menambahkan, sebenarnya kumbang kecil ini temasuk predator yang memangsa serangga hama , sehingga dalam konteks pertanian menguntungkan dan menjadi sahabat petani karena turut menjaga dan menekan populasi hama seperti wereng. ”Ledakan populasi biasanya terjadi di akhir musim hujan dan akan menurun ketika musim kemarau,” ujarnya.  Haryono memprediksi munculnya serangan Tomcat karena adanya perubahan iklim, terutama saat memasuki musim pancaroba. Selain itu,  terganggunya ekosistem Tomcat akibat alih fungsi lahan pertanian, seperti berubah menjadi perumahan membuat Tomcat memasuki wilayah pemukiman penduduk. ”Apalagi serangga ini menyukai cahaya, karena itu ketika malam hari akan pindah dan masuk ke rumah yang terang,” jelasnya. 
            Deciyanto Soetopo, Peneliti Utama Bidang Hama dan Penyakit Badan Litbang Pertanian, juga mengatakan, dari sisi pertanian sebenarnya Tomcat bermanfaat lantaran membantu petani membasmi hama wereng yang banyak merusak tanaman padi. Karena itu, tidak ada keinginan dari pemerintah untuk membasmi secara massal serangga tersebut, terutama yang berada di ekosistem pertanian. ”Jika ada upaya membasmi besar-besaran serangga ini, maka dikuatirkan akan mengganggu ekosistem. Dampaknya justru populasi hama yang selama ini jadi makanan serangga Tomcat seperti wereng malah berkembang menjadi besar. Jadi harus hati-hati dalam menangangi serangga yang memang sudah ada di sekitar kita,” jelasnya.
            Sementara Staf Ahli Bidang Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup Prof Dr Liana Bratasida menegaskan, serangan Tomcat merupakan bukti langsung telah terjadinya perubahan iklim yang luar biasa, sehingga beberapa jenis serangga mendapatkan kesuburan populasi yang pesat. ”Tidak bisa ditolak lagi, serangan Tomcat ada keterkaitan dengan perubahan cuaca. Jadi perlu segera tindakan yang mengarah pada perbaikan kondisi alam,” ujarnya.
Sedangkan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan, Tomcat keberadaannya umum di seluruh dunia, khususnya di daerah tropis. Bahkan, serangga ini ditemukan memiliki 622 spesies berbeda yang tersebar di seluruh dunia. "Tomcat tidak mengigit atau menyengat, tetapi mengeluarkan cairan tubuh yang beracun dan dinamakan paederin.
Racun ini bisa menimbulkan iritasi serius pada kulit, sehingga bisa terlihat seperti terbakar,” jelasnya. Pemerintah menghimbau agar masyarakat tidak perlu panik dan lebih arif mengatasi wabah Tomcat ini. Jika serangga itu menempel pada kulit, maka jangan digerus atau dihancurkan. Tapi cukup dengan mengusir secara halus, misalnya dengan ditiup atau dihalau secara hati-hati agar tidak mengeluarkan racun. Namun jika sudah terkena racun, maka pertolongan pertama yang bisa dilakukan adalah dengan mencuci daerah yang terkontaminasi serangga tersebut dengan air sabun agar racunnya dapat diminimalisir. 

              www.google.com





Tidak ada komentar:

Posting Komentar